Ketika Jarum dan Benang Tak Lagi Diwariskan 

(Foto: Lea Rachma K./Dok. Pribadi Visentris)

Malang – Di lantai dua Pasar Besar Malang, mesin jahit masih menyala setiap hari. Para penjahit di sini tidak kekurangan pelanggan. Yang perlahan menghilang bukan pelanggannya, tapi penerusnya. Keterampilan yang dulu berpindah tangan lewat latihan dan kesabaran, kini makin jarang dicari.

Dulu, menjahit adalah keahlian yang diwariskan. Dari orang tua ke anak, dari nenek ke cucu. Sekarang, ketika baju bisa didapat dengan harga puluhan ribu rupiah dari layar ponsel, tidak banyak lagi yang merasa perlu mempelajarinya. Profesi ini tidak mati, tapi perlahan kehilangan orang yang mau melanjutkannya.

Warisan yang Berhenti di Satu Generasi

Anis tidak pernah benar-benar diajarkan menjahit. Dari kecil sudah mendengar suara mesin jahit orang tuanya, lama-lama mencoba sendiri sampai akhirnya bisa. Keterampilan itu berpindah lewat kebiasaan, bukan pelatihan khusus. Tanpa disadari, itulah yang disebut pewarisan.

Sekarang, Anis sudah 19 tahun menjahit di Pasar Besar Malang. Pelanggannya masih datang. Tapi yang datang ingin belajar, sudah hampir tidak ada.

“Peminatnya kalau dari sepuluh tahun yang lalu sama sekarang, jelas jauh berbeda,” katanya.

Ia tahu alasannya. Ketika baju bisa didapat dengan harga Rp50.000 dari layar ponsel, tidak banyak lagi yang merasa perlu susah payah mempelajari cara membuatnya. Menjahit bukan lagi keahlian yang terasa perlu diwariskan.

Penjahit Tua, Lantai yang Sama 

Di lantai dua Pasar Besar Malang, ada lima penjahit yang masih bertahan. Hanya satu yang muda. Sisanya sudah berusia lanjut, menjahit sejak zaman ketika profesi ini masih jadi pilihan.

Titik adalah salah satunya. Ia mulai menjahit sejak tahun tujuh puluhan, belajar dari orang tuanya. Puluhan tahun berlalu, ia masih di lantai yang sama, masih melayani pelanggan yang datang. Tapi harapannya sederhana. 

“Harapannya ya semoga masih ada yang butuh penjahit. Walaupun zaman sudah berubah, saya tetap ingin kerja dan melayani pelanggan dengan baik, katanya. 

Di kios lain, Ali punya cerita berbeda. Keterampilan menjahitnya bukan didapat dari sekolah atau kursus. Ia belajar menjahit sejak kecil, diturunkan dari neneknya.

Mulai kecil, saya dari nenek, ujar Ali, salah satu penjahit di Pasar Besar Malang.

Kini anaknya pun ikut menjahit, meneruskan apa yang sudah diwariskan dua generasi sebelumnya. Di luar lingkaran keluarga seperti itu, cerita semacam ini makin sulit ditemukan. 

Jarum Tanpa Penerus

Tren akan terus berganti. Tapi ketika penjahit-penjahit ini pensiun nanti, pertanyaannya bukan lagi soal selera. Melainkan, apakah masih ada yang mau belajar menjahit.

Di sudut Pasar Besar Malang, para penjahit tua masih bertahan dengan ketekunan, menarik benang dan menjaga ritme kerja yang sama sejak puluhan tahun lalu. Profesi yang dulu diwariskan turun‑temurun kini perlahan kehilangan peminat, tergeser oleh budaya instan belanja online dan fast fashion.

Ketika generasi muda lebih memilih membeli pakaian baru daripada belajar menjahit, tersisa satu pertanyaan yang menggantung, siapa yang akan meneruskan profesi penjahit ini di masa depan?