
Kebiasaan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan fashion telah berubah karena adanya kemudahan berbelanja pakaian melalui internet. Orang lebih suka membeli pakaian baru daripada memperbaiki atau menjahit pakaian lama. Kini berbagai model pakaian dapat dibeli dengan cepat melalui ponsel. Penjahit di area Pasar Besar Malang juga merasakan perubahan ini. Mereka bertahan dengan menjaga kualitas jahitan, mempertahankan kepercayaan pelanggan, dan mengikuti perkembangan zaman meskipun menghadapi persaingan tren belanja online dan perubahan gaya berpakaian.
Bertahan pada Kepercayaan Pelanggan
Bu Anis (43) akrab dengan suara mesin jahit sejak kecil. Berasal dari keluarga penjahit, ia tidak pernah mengira kemampuan yang diwariskan orang tuanya akan menjadi sumber pendapatannya. Sebelum menekuni profesi ini selama 19 tahun, ia sempat bekerja di sebuah kantor swasta pada bagian keuangan. Melihat orang tuanya menjahit membuatnya perlahan belajar sendiri hingga akhirnya memilih menjahit sebagai pekerjaan utamanya. Ia sekarang menjahit di Pasar Besar Malang dan menerima pesanan di rumahnya di sekitar Cengger Ayam.
Kebiasaan membeli pakaian telah berubah sejak hadirnya platform belanja online. Sekarang orang dapat membeli pakaian baru dengan harga terjangkau tanpa harus datang ke penjahit. Meski begitu, ia tidak terlalu khawatir. Pelanggan akan selalu kembali. Sebagian besar pelanggannya datang melalui rekomendasi dari mulut ke mulut. Karena itu, ia lebih memilih menjaga kualitas daripada promosi di media sosial. “Kualitas saja yang saya jaga,” katanya. Prinsip itulah yang membuatnya tetap bertahan hingga kini. “Yang penting itu konsisten aja dan jangan gampang merasa puas,” ujarnya.
Menunggu pelanggan, menjaga warisan
Di sisi lain lantai dua Pasar Besar Malang, Bu Titik (64) masih setia duduk di depan mesin jahitnya. Wanita paruh baya itu telah mengenal dunia jahit sejak remaja, meneruskan profesi yang diwariskan orang tuanya. Bahkan, ayahnya bekerja sebagai penjahit sejak masa kolonial. Sejak tahun 1970-an, Bu Titik menyaksikan sendiri bagaimana kebiasaan masyarakat dalam berpakaian terus berubah.
Menurutnya, kini orang lebih sering membeli pakaian baru daripada memperbaiki pakaian lama. “Sekarang orang lebih sering beli baru daripada memperbaiki pakaian lama,” ujarnya. Ia menilai media sosial membuat tren pakaian berganti semakin cepat sehingga masyarakat cenderung mengikuti model-model baru. Tak hanya itu, kualitas bahan pakaian juga dianggap berbeda dibanding dahulu. “Dulu kainnya lebih bagus. Sekarang banyak yang lebih gampang robek,” katanya.
Bertahan dengan Mengikuti Perkembangan Zaman
Di sisi lain, Pak Ali telah mengenal dunia jahit sejak kecil. Keahlian itu ia pelajari dari neneknya dan terus ditekuni hingga sekarang di Pasar Besar Malang. Namun, dari berbagai perubahan yang terjadi selama bertahun-tahun, tantangan terbesar yang pernah dihadapi justru datang saat pandemi Covid-19 melanda pada tahun 2020 yang membuat pasar mendadak sepi.
“Banyak yang nggak buka toko. Tapi saya tetap buka. Kalau nggak buka toko, nggak makan,” katanya.
Meski masyarakat kini lebih mudah membeli pakaian melalui platform belanja online, Pak Ali memilih beradaptasi daripada melawan perubahan. Ia bahkan memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan usahanya. “Saya malah ingin terkenal. Makin banyak yang tahu saya, makin banyak dapat pelanggan,” ujarnya. Baginya, mengikuti perkembangan zaman adalah cara untuk tetap bertahan. “Kalau saya nggak mengikuti, bisa tekor saya,” katanya.
Tetap Bertahan di Tengah Perubahan
Memang, pergeseran tren fashion dan munculnya platform belanja online telah membuat kepercayaan masyarakat pada jasa penjahit berkurang. Bagaimanapun, keterampilan menjahit adalah warisan yang terus dijaga bagi para penjahit di Pasar Besar Malang. Dengan mempertahankan kualitas, menumbuhkan kepercayaan pelanggan, dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Mereka menunjukkan bahwa industri jahit tetap sejalan dengan perkembangan zaman.
