
Halo Vivers – Di era fast fashion saat ini tampil menarik bukan lagi sekadar pilihan, tetapi secara halus sudah menjadi tuntutan sosial yang harus dipenuhi. Beberapa orang merasa tidak percaya diri ketika mereka memakai pakaian yang sama setiap hari. Perilaku ini juga didukung oleh derasnya tren fashion di media sosial seperti Instagram dan TikTok yang membuat konsumsi fashion meningkat drastis. Sehingga tanpa disadari, pembelian produk fashion berubah menjadi beban finansial. Menilik dari survei Snapcart yang dimuat Katadata Databoks, terdapat 65% responden yang mengaku menggelontorkan uang setidaknya Rp500.000 perbulan. Fenomena ini menunjukkan bahwa fashion tidak lagi sekedar gaya hidup, tetapi telah berubah menjadi tekanan konsumsi yang berdampak pada kondisi finansial generasi muda.
Di Balik Outfit Estetik dan Tekanan Sosial Anak Muda
Era media sosial membuat segala yang ditampilkan menjadi bagian dari identitas digital seseorang. Generasi muda terus terpapar standar visual yang mengalir dengan cepat. Sehingga, ruang digital menciptakan tekanan untuk harus tampil menarik dan mengikuti tren.
Tekanan ini muncul karena media sosial menghadirkan perbandingan tanpa henti. Anak muda memandang fashion bukan hanya sebagai pakaian, tapi sebagai cara untuk bisa diterima secara sosial dan mendapatkan validasi di internet. Semakin anak muda terpapar dengan konten lifestyle atau OOTD (outfit of the day), semakin besar pula dorongan untuk membeli dan menggeser style agar tidak merasa ketinggalan tren.
Akibatnya, fashion perlahan berubah menjadi tuntutan sosial digital, bukan pilihan personal. Padahal dibalik itu, tidak semua tren dan style tercipta secara murni. Tak sedikit kampanye dari pihak tertentu dengan sengaja menciptakan standar style yang akhirnya menguntungkan pihak mereka.
Media Sosial dan Tren yang Tak Pernah Usai
Penggunaan media sosial seperti TikTok dan Instagram menambah kecepatan evolusi tren fashion. Tak bisa dipungkiri, adanya konten OOTD dan semacamnya membuat preferensi style anak muda semakin beragam.
Hal ini diperkuat dengan hasil Survei Urban Banking 2024 yang dirilis Mandiri Institute. Survei tersebut menyebutkan bahwa di kalangan responden Gen Z, net spending intention atau minat belanja tertinggi ditujukan untuk kebutuhan pokok (51%) dan fashion (48%). Angka Ini menggambarkan betapa besarnya porsi fashion dalam pola konsumsi Gen Z.
Jika sebelumnya fashion hanya bergerak dengan empat musim tren dalam setahun, kini berjalan lebih cepat dan melahirkan 52 micro-trend per tahunnya. Gaya yang kita pakai sekarang bisa tenggelam dalam hitungan minggu, tergantikan oleh style baru yang viral di media sosial.
Sistem Digital yang Membuat Konsumsi Terasa Wajar
Fenomena ini diperburuk dengan hadirnya e-commerce yang semakin memudahkan generasi muda tergoda. Baik dari sisi tampilan produk, harga, bahan, maupun potongan harga yang ditawarkan. Tak hanya itu, beragamnya metode pembayaran yang tersedia semakin mendorong lonjakan keinginan untuk membeli. Salah satu metode yang paling familiar adalah paylater.
Paylater dan cicilan memperkuat pola konsumsi impulsif, terutama untuk produk fashion yang bersifat sangat mudah berubah mengikuti tren terbaru. Di satu sisi, fitur ini mempermudah akses terhadap produk, namun di sisi lain justru menambah tekanan finansial baru.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penggunaan paylater di kalangan anak muda terus meningkat dengan mayoritas penggunaan untuk kebutuhan gaya hidup, terutama fashion. Data OJK tahun 2024 menunjukkan 66,4% penggunaan paylater dipakai untuk belanja produk fashion. Kondisi ini menandakan bahwa tren konsumsi fashion semakin bergeser ke arah impulsif.
Dari Keinginan Menjadi Tagihan
Gaya hidup yang terus-menerus mengikuti tren fashion perlahan memengaruhi kondisi finansial anak muda. Pengeluaran yang awalnya dianggap kecil justru menjadi kebiasaan dan tanpa disadari sulit dikendalikan. Namun, ketika dilakukan secara berulang dengan mengikuti perubahan tren, jumlah pengeluaran akan menjadi jauh lebih besar.
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 menunjukkan bahwa kelompok usia muda memiliki tingkat literasi keuangan yang rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemudahan akses terhadap layanan keuangan belum diimbangi dengan kemampuan mengelola keuangan secara bijak. Akibatnya, Gen Z kerap terjerumus dalam pola konsumsi impulsif yang berujung pada tekanan finansial.
Ketika Validasi Sosial Mengalahkan Kesadaran Finansial
Pada akhirnya, muncul pertanyaan yang harus disadari bersama, apakah fashion hari ini masih sebagai bentuk ekspresi diri atau justru menjadi tuntutan sosial yang memaksa seseorang terus membeli agar merasa cukup?
Jawaban dari pertanyaan tersebut bukan berarti harus menghentikan konsumsi fashion secara penuh. Fashion tetap bisa menjadi ekspresi diri, kreativitas, dan cara mengenali diri sendiri. Tapi, di tengah arus tren dan validasi digital, anak muda harus benar-benar memahami batas antara kebutuhan dan yang lahir dari tekanan tren sosial sesaat.
Style tidak seharusnya menjadi penyebab seseorang kehilangan kontrol atas dirinya sendiri, apalagi dalam hal finansial. Sebab nilai seseorang tidak ditentukan dari seberapa up to date style nya tapi dari bagaimana mereka bisa memahami kebutuhan dirinya sendiri ditengah standarisasi yang tak pernah usai.
